Posts in "sumenep"
Tampilkan postingan dengan label sumenep. Tampilkan semua postingan

Lamborghini Madura
Lamborghini merupakan sebuah supercar buatan negeri Italia yang terkenal mewah dan bermesin brutal. Sudah banyak produk yang ditetaskan dan telah dimiliki para saudagar tajir yang mengidamkan mobil mewah bertenaga mumpuni ini.

Namun, tahukah Anda jika ternyata Lamborghini punya satu mobil konsep yang dibangun dari inspirasi karapan sapi di Madura, Indonesia. Ya, setidaknya mobil itu pernah diperkenalkan pada 2010.

Mobil bernama Lamborghini Madura itu memang belum melakoni debutnya. Menurut situs Lambocars.com, Lamborghini Madura baru akan meluncur pada 2016.

Diceritakan, cikal bakal mobil ini adalah sebuah proyek bernama Lamborghini Raw Materials Project yang digawangi oleh Prof. Dr. Othmar Wickenheiser dan Slavche Tanevsky yang merupakan mahasiswanya.

Sang profesor memiliki ide untuk melibatkan mahasiswa bergabung dalam perencanaan produk Lamborghini.

Nama Madura dipilih oleh Lamborghini karena tradisi karapan sapinya. Sepanjang sejarah, Lamborghini memang kerap menamakan mobilnya dengan sesuatu yang berhubungan dengan binatang banteng yang merupakan hewan favorit Ferruccio Lamborghini, pendiri perusahaan pembuat mobil super ini.
Sebelum Madura, hanya dua nama Lamborghini yang tidak berhubungan dengan banteng yaitu Countach dan Silhouette.

Bicara desain, Lamborghini bermesin hybrid ini memang terlihat sangar dan sepintas mirip sekali dengan Batmobile --mobil yang kerap dipakai Batman. Kesan yang ingin dihadirkan pada mobil ini sepertinya memang tampan dan cepat, namun tak melupakan keramahan terhadap alam.

Secara proporsional, mobil ini memiliki wheelbase lebih pendek, dan overhang sama panjang. Wheelbase pendek sengaja dilakukan agar memberikan kelincahan yang lebih baik dan kinerja mengemudi sang pembesut agar mudah dalam melakukan manuver di jalanan.
Yang unik, terdapat permukaan visual layering tipis yang merupakan bagian dari elemen tubuh yang terpisah. Alhasil, tubuh Lamborghini Madura pun terlihat berpenampilan eksentrik.

Desain Lamborghini Madura sekilas memang mirip dengan Lamborghini Reventon. Namun, Madura terlihat lebih kekar dan futuristik. Beda dengan Lamborghini lainnya, mesin Madura diletakkan di bagian depan.

Namun demikian, hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak Lamborghini soal dapur pacu yang ditanamkan untuk Madura. Tanevsky memberi bocoran jika Madura tetap akan masuk di kelas supercar karena kecepatan dan power mesinnya.

Sumber : http://otomotif.news.viva.co.id/news/read/594754-lamborghini-madura--mobil-yang-terinspirasi-karapan-sapi


Emha: "Yang Berkuasa di Indonesia bukan Jokowi, Bukan Megawati"Yang berkuasa di Indonesia adalah orang-orang yang...
Posted by Pulau Madura Indonesia on 29 Agustus 2015
Pedagang daging ayam kampung dan ayam broiler, di Pasar Anom Baru, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur berjalan normal. Tidak ada aksi mogok sebagaimana terjadi didaerah lain akibat harga melonjak naik.
“Di Sumenep tidak ada pedagang ayam yang mogok, semuanya beraktifitas seperti biasanya,” terang Heni Yulianto, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumenep, Kamis (27/8/2015).
Menuru Heni, sesuai hasil pemantauan di Pasar Anom Baru, harga daging ayam, baik ayam kampung maupun broiler sejak pekan lalu berjalan stabil.
“Harga daging ayam broiler Rp32 ribu/kilogram dan ayam kampung Rp70 ribu. Harga daging sapi juga tetap Rp110 ribu/kilogram,” terangnya.
Heni menjelaskan, mayoritas harga komoditas yang merupakan objek pemantauan tidak mengalami perubahan, di antaranya minyak goreng curah tetap Rp11 ribu dan mentega curah Rp12 ribu.
“Harga gula pasir juga stabil pada kisaran Rp11 ribu hingga Rp12 ribu/kilogram, dan tepung terigu pada kisaran Rp7 ribu hingga Rp8 ribu,” tegasnya.
Hingga hari ini, lanjut Heni, hanya ada satu jenis kebutuhan yakni cabai merah besar yang mengalami perubahan harga dibanding pekan lalu, yakni dari Rp22 ribu/kilogram menjadi Rp20 ribu.
“Sementara cabai rawit tetap Rp40 ribu dan cabai besar keriting Rp15 ribu,” paparnya.

Sumber : http://portalmadura.com/pedagang-daging-ayam-di-sumenep-tak-ikut-mogok-36038
Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dikenal dengan banyaknya pulau yang dimilikinya, total ada 125 pulau di Sumenep dari yang berpenghuni dan tak berpenghuni. Siapa sangka diantara pulau tersebut terdapat satu pulau dengan kadar oksigen terbaik ke 2 didunia setelah Yordania.

Pulau Giliyang namanya, pulau yang secara administratif berada wilayah Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis berada pada koordinat 060 59’ 9” LS dan 1140 10’ 29” BT dengan luas 921.2 Ha.

Pulau Giliyang dahulu dikenal dengan 2 nama yang berbeda yaitu Gila Iyang dan Gili Elang. Menurut penuturan penduduk setempat terdapat 2 sejarah yang berbeda mengenai asal muasal nama pulau tersebut.



Yang Kedua, asal nama pulau ini adalah Gili Elang atau Pulo elang yang memiliki arti pulau yang hilang dalam bahasa Madura, karena pada zaman penjajahan belanda dahulu pulau ini merupakan pulau yang tidak ditemukan atau hilang, sementara pulau-pulau disekitarnya telah ditemukan terlebih dahulu. Dari hasil verifikasi Tim Pembakuan Nama Rupabumi Tahun 2006 kemudian nama pulau ini dibakukan menjadi Giliyang yang telah dikenal oleh masyarakat di Sumenep.

Pulau inilah yang diklaim mempunya kadar oksigen terbaik didunia, hal itu berdasarkan hasil penelitian tim Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN akhir Juli 2006 lalu, yang kemudian dilakukan kaji ulang pada 27 Desember 2011 lalu oleh BLH (Badan Lingkungan Hidup) Sumenep dan Jawatimur serta pihak Bappeda menunjukkan bahwa Pulau Giliyang satu-satunya pulau yang mempunyai oksigen terbaik di dunia sehingga sangat tepat bila kawasan itu dijadikan wisata kesehatan

Sebagai gambaran, dari hasil penelitian Pulau Giliyang memiliki konsentrasi oksigen sebesar 20,9% dengan level explosif limit (LEL) 0,5%. Nilai kandungan tersebut berbeda dengan wilayah lain yang mempunyai nilai konsentrasi oksigen 20,9% dan LEL 0,0%. Ketika dikaji ulang, hasilnya pun sama yakni oksigen di pulau tersebut antara 3,3 hingga 4,8 persen atau di atas normal.

Artinya, pulau ini sangat cocok bagi anda yang hendak berwisata namun tetap sehat, karena di pulau ini anda akan menghirup udara dengan kadar polusi sangat rendah, yang dipastikan lebih sehat untuk anda.
gili yang
Yang pertama adalah Gila Iyang yang artinya gila dari nenek moyang, dahulu pulau ini merupakan pulau yang dijadikan sebagai tempat pembuangan orang gila, pulau ini saat pertama ditemukan merupakan pulau yang ditempati oleh orang gila.

sumber : http://www.humaspemkabsumenep.org/2015/03/giliyang-pulau-oksigen-terbaik-dunia.html
IMG_2078
Jika anda lihat foto diatas mungkin anda tidak percaya, kok bias salju turun ketika terik panas matahari menyengat bumi, yah tentu saja itu bukan salju, foto diatas merupakan foto-foto yang saya ambil di penambangan batu putih di pengunungan kapur yang terletak di Desa Batu Putih, Kecamatan Batu Putih, Sumenep.
Sudah puluhan tahun tempat ini menjadi mata pencaharian bagi para penduduk sekitar untuk dijadikan tempat mengaup rupiah dari aktifitas menambang batu, para penambang disini masih menggunakan alat-alat sederhana seperti gergaji, palu dsb. Untuk dijadikan alat memotong batu dari gundukan gunung kapur, coba anda bayangkan berapa tahun lagi gunung ini akan habis ?
IMG_2095
Disini terdapat beberapa penambangan batu putih dengan berbagai macam jenis, jika dibagi dengan alat penambangan disini bisa dibagi dua yaitu penambangan dengan alat modern dan penambangan dengan alat tradisional, mereka sama-sama mencari untung dengan mengeruk batu kapur yang ada di pegunungan ini.
Nah jika anda senang dengan fotografi tempat ini cocok dijadikan tempat foto-foto karena pemandangannya yang bagus dan tempat ini bersebarangan dengan laut pantura pulau Madura yang dikenal indah dengan gugusan bibir pantai pasir putih yang membentang sepanjang bibir pantai ini dan juga merupakan terusan dari Pantai Badur dan Pantai Lombang.
IMG_2098
Jika anda tertarik silahkan datang ke Desa Batu Putih, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Sumenep dan rasakan sendiri keindahannya.

Sumber : http://plat-m.com/salju-di-sumenep/
motor bodong
Aparat kepolisian, khususnya di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dituntut melakukan pengawasan ekstra di Pelabuhan Kalianget, menjelang lebaran Idul Fitri 2015.
“Pada hari biasa, para pelaku mungkin kesulitan memasok motor bodong (tanpa dilengkapi surat-surat, red) ke pulau, tapi pada momen lebaran ini, bisa saja dijadikan kesempatan, karena warga pulau banyak yang memaketkan kendaraannya,” kata Sarkawi (50), warga sekitar Pelabuhan Kalianget, Sumenep, Sabtu (4/7/2015).
Menurut dia, para pelaku pemasok motor tanpa dilengkapi surat-surat atau dokumen resmi akan menggunakan segala cara, sehingga aparat kepolisian perlu ekstra melakukan pengawasan di pelabuhan.
“Tolong, setiap kendaraan yang akan dikirim ke pulau periksa surat-suratnya, sehingga wilayah kepulauan tidak dijadikan tempat motor bodong,” tegasnya.
Sebelumnya, petugas menurunkan empat kendaraan bermotor yang diduga bodong dari salah satu perahu layar motor. Langkah itu, dinilai sudah tepat dan perlu terus ditingkatkan.
Sementara, Kapolres Sumenep AKBP Rendra Radita Dewayana, melalui Kasubag Humas Polres AKP Hasanuddin mengaku telah menerjunkan 10 orang petugas untuk membantu tugas-tugas polsek dan polair Kalianget.
“Setiap kali ada kapal yang mau berangkat kepulau, mereka mengecek setiap barang yang akan dikirim,” katanya.(hartono)
batu akik naga 10 miliar
Harga batu akik yang tergolong unik bermunculan diberbagai daerah di Indonesia. Harga pun cukup fantastik.
Salah satunya, jenis batu akik naga milik warga Dusun Kabbuan Timur, Desa Juruan Laok, Kecamatan Batuputih, Sumenep, Madura, Jawa Timur dibandrol Rp 10 miliar.
Harga tersebut lebih murah dibanding akik naga milik warga Dusun III, Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan-Langkat yang memasang harga Rp18 miliar (dilansir Sumut Pos-Grup JPNN, Kamis (13/2/2015).
Batu akik serupa milik warga Nagan Raya, Aceh, dibandrol hingga Rp20 miliar dan sudah ditawar Rp3 miliar (dilansir  Rakyat Aceh-Grup JPNN, Kamis (6/3/2015).
“Saya pasang harga sepuluh miliar. Kalau dibanding dengan nilai seni dan batu akik serupa di daerah lain, batu akik naga yang saya ini jauh lebih murah,” kata Risna (45), pemilik batu akik naga di Sumenep, Selasa (24/3/2015).
Batu akik naga yang dimiliki merupakan pemberian dari leluhurnya yang diberikan secara turun temurun dan sudah berumur ratusan tahun. Ia mengaku sengaja akan menjual karena untuk kepentingan dakwa yakni pembangunan sebuah masjid yang sedang digarap.
“Kalau laku, sebagian dari dana itu untuk pembangunan masjid. Semoga Allah meridlai,” pungkasnya.(Hartono)



sumber : http://portalmadura.com/milik-warga-sumenep-batu-akik-naga-dibandrol-rp10-miliar-29270
Arya Wiraraja
Madura Barat
  • Pangeran Tengah 1592-1621. Saudara dari:
  • Pangeran Mas 1621-1624
  • Pangeran Praseno / PangĂ©ran Tjokro di Ningrat I / Pangeran Cakraningrat I 1624-1647. Anak dari Tengah dan Ayah dari:
  • Pangeran Tjokro Diningrat II / Pangeran Cakraningrat II 1647-1707, Panembahan 1705. Ayah dari:
  • Raden Temenggong Sosro Diningrat / Pangeran Tjokro Diningrat III / Pangeran Cakraningrat III 1707-1718. Saudara dari:
  • Raden Temenggong Suro Diningrat / Pangeran Tjokro Diningrat IV / Pangeran Cakraningrat IV 1718-1736. Ayah dari:
  • Raden Adipati Sejo Adi Ningrat I / Panembahan Tjokro Diningrat V / Pangeran Cakraningrat V 1736-1769. Kakek dari:
  • Raden Adipati Sejo Adiningrat II / Panembahan Adipati Tjokro Diningrat VI / Pangeran Cakraningrat VI 1769-1779
  • Panembahan Adipati Tjokro Diningrat VII / Pangeran Cakraningrat VII 1779-1815, Sultan Bangkalan 1808-1815. Anak dari Tjokro di Ningrat V dan Ayah dari:
  • Tjokro Diningrat VIII / Pangeran Cakraningrat VIII, Sultan Bangkalan 1815-1847. Saudara dari:
  • Panembahan Tjokro Diningrat IX / Pangeran Cakraningrat / Sultan Bangkalan 1847-1862. Ayah dari:
  • Panembahan Tjokro Diningrat X/ Pangeran Cakraningrat X / Sultan Bangkalan 1862-1882.
  • Pangeran Trunojoyo, Pahlawan Madura salah seorang keturunan Kerajaan Madura Barat dalam memberontak pemerintahan VOC di Jawa dan Madura
Madura Timur
  • Prabu Arya Wiraraja, Adipati Sumenep I pada tahun 1269 dan sebagai salah satu tokoh pendiri Kerajaan Majapahit bersama Raden Wijaya.
  • Pangeran Secadiningrat I
  • Pangeran Secadiningrat II
  • Pangeran Secadiningrat III Adipati Sumenep XIII tahun 1415 - 1460
  • Pangeran Secadiningrat IV Adipati Sumenep 1460 - 1502
  • Pangeran Secadiningrat V Adipati Sumenep 1502 - 1559
  • Raden Tumenenggung Ario Kanduruan Adipati Sumenep 1559 - 1562
  • Pangeran Lor dan Pangeran Wetan Adipati Sumenep 1562 - 1567
  • Pangeran Keduk I Adipati Sumenep 1567 - 1574
  • Pangeran Lor II Adipati Sumenep 1574 - 1589
  • Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro I menjadi Adipati Sumenep 1589 - 1626
  • Kanjeng R. Tumenggung Ario Anggadipa Adipati Sumenep 1626 - 1644
  • Kanjeng R. Tumenggung Ario Jaingpatih Adipati Sumenep 1644 - 1648
  • Kanjeng Pangeran Ario Yudonegoro Adipati Sumenep 1648 - 1672
  • Kanjeng R. Tumenggung Pulang Jiwa dan Kanjeng Pangeran Seppo Adipati Sumenep 1672 - 1678
  • Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro II Adipati Sumenep 1678 - 1709
  • Kanjeng R. Tumenggung Wiromenggolo Adipati Sumenep 1709 - 1721
  • Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro III Adipati Sumenep 1721 - 1744
  • Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro IV Adipati Sumenep 1744 - 1749
  • Raden Buka Adipati Sumenep 1749 - 1750
  • Kanjeng R. Ayu Rasmana Tirtanegara dan Kanjeng R. Tumenggung Tirtanegara Adipati Sumenep 1750 - 1762
  • Kanjeng R. Tumenggung Ario Asirudin / Pangeran Natakusuma I (Panembahan Somala) Sultan Sumenep tahun 1762 - 1811
  • Sultan Abdurrahman Paku Nataningrat I (Kanjeng R. Tumenggung Abdurrahaman) Sultan Sumenep 1811 - 1854
  • Panembahan Natakusuma II (Kanjeng R. Tumenggung Moh. Saleh Natanegara) menjadi Adipati Sumenep 1854 - 1879
  • Kanjeng Pangeran Ario Mangkudiningrat Adipati Sumenep 1879 - 1901
  • Kanjeng Pangeran Ario Pratamingkusuma Adipati Sumenep 1901 - 1926
  • Kanjeng Pangeran Ario Prabuwinata Adipati Sumenep 1926 - 1929
Objek Wisata Sejarah, Budaya dan Arsitektur
labeng mesem
Karaton Songenep
  • Museum Keraton Sumenep merupakan museum yang dikelola oleh pemerintah daerah Sumenep yang di dalamnya menyimpan berbagai koleksi benda-benda cagar budaya peninggalan keluarga Karaton Sumenep dan beberapa peninggalan masa kerajaan hindu budha seperti arca Wisnu dan Lingga yang ditemukan di Kecamatan Dungkek. Didalam museum terdapat juga beberapa koleksi pusaka peninggalan Bangsawan Sumenep seperti guci keramik dari Cina dan Kareta My Lord pemberian Kerajaan Inggris kepada Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I atas jasanya yang telah banyak membantu Thomas Stamford Raffles salah seorang Gubenur Inggris dalam penelitian yang dilakukannya di Indonesia.
  • Keraton Sumenep merupakan peninggalan pusaka Sumenep yang dibangun oleh Raja/Adipati Sumenep XXXI, Panembahan Sumolo Asirudin Pakunataningrat dan diperluas oleh keturunannya yaitu Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I. Karaton Sumenep sendiri letaknya tepat berada di depan Museum Karaton Sumenep,
  • Masjid Jamik Sumenep merupakan bangunan yang mempunyai arsitektur yang khas, memadukan berbagai kebudayaan menjadi bentuk yang unik dan megah, dibangun oleh Panembahan Somala Asirudin Pakunataningrat yang memerintah pada tahun 1762-1811 M dengan arsitek berkebangsaan tionghoa "law pia ngho"
  • Kota Tua Kalianget letaknya di sebelah timur kota Sumenep, disini para pengunjung bisa melihat peninggalan-peninggalan Pabrik garam, Arsitektur Kolonial dan beberapa daerah pertahanan yang dibangun Oleh Pemerintahan Kolonial saat menjajah wilayah Sumenep,
  • Rumah Adat Tradisional Madura Tanean Lanjhang , bisa ditemui di beberapa daerah menuju pantai lombang maupun menuju pantai slopeng,
  • Benteng VOC Kalimo'ok di Kalianget.
Objek Wisata Alam

Hutan Cemara udang di sepanjang bibir Pantai Utara Sumenep sepanjang 30 km, menambah suasana indahnya Bumi Sumekar
  • Pantai Lombang adalah pantai dengan hamparan pasir putih dan gugusan tanaman cemara udang yang tumbuh di areal tepi dan sekitar pantai. Suasananya sangat teduh dan indah sekali. Pantai Lombang adalah satu-satunya pantai di Indonesia yang ditumbuhi pohon cemara udang,
  • Pantai Slopeng adalah pantai dengan hamparan gunung pasir putih yang mengelilingi sisi pantai sepanjang hampir 6 km. Kawasan pantai ini sangat cocok untuk mancing ria karena areal lautnya kaya akan beragam jenis ikan, termasuk jenis ikan tongkol,
  • Pantai Ponjug di Pulau Talango,
  • Pantai Badur di Kecamatan Batu Putih,
  • Pantai Pasir Putih dan Terumbu Karang Pulau Saor (Kecamatan Sapeken),
  • Kepulauan Kangean dan sekitarnya merupakan gugusan kepulauan Kabupaten Sumenep yang letaknya berada di wilayah ujung timur Pulau Madura. Mempunyai banyak pantai yang eksotik,
  • Wisata Taman Laut Mamburit Pulau Arjasa,
  • Wisata Taman Laut Gililabak Pulau Talango,
  • Taman Air Kiermata di Kecamatan Saronggi,
  • Goa Jeruk Asta Tinggi Sumenep,
  • Goa Kuning di Kecamatan Kangean,
  • Goa Payudan di Kecamatan Guluk-Guluk,
Wisata Religi/Ziarah
  • Asta Karang Sabu merupakan kompleks pemakaman keluarga Raja / Adipati Sumenep yang memerintah pada abad 15 yaitu Pangeran Ario kanduruan, Pangeran Lor dan Pangeran Wetan. di daerah karang sabu inilah dia memimpin pemerintah Sumenep pada saat itu.
  • Kompleks pemakaman Asta Tinggi Sumenep merupakan kompleks pemakaman Raja-Raja Sumenep yang dibangun pada tahun 1644 M. terletak di daerah dataran Tinggi Kebon Agung Sumenep.
  • Asta Yusuf merupakan salah satu makam penyebar agama islam di Pulau Talango, makam tersebut ditemukan oleh Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat ketika betolak menuju Bali pada tahun 1212 hijriah (1791),
  • Asta Katandur merupakan salah satu makam penyebar agama islam di Sumenep, Pangeran Katandur yang juga salah satu tokoh yang ahli dalam bidang pertanian dan menurut berbagai sumber, Pangeran Katandur juga merupakan pencipta tradisi kerapan sapi,
  • Makam Pangeran Panembahan Joharsari yang merupakan salah satu Adipati Sumenep V yang pertama kali memeluk Agama islam di Bluto,
Wisata Minat Khusus
  • Tirta Sumekar Indah merupakan salah satu kompleks pemandian kolam renang yang ada di Sumenep, letaknya berada di kecamatan Batuan, sebelah barat kota Sumenep. Letaknya yang strategis, dikelilingi Perkebunan Pohon Jati dan Jambu Mente serta tak jauh dari wisata kompleks pemakaman Asta Tinggi membuat pemandian ini banyak di kunjungi warga saat akhir pekan dan liburan sekolah,
  • Water Park Sumekar, merupakan wisata air yang terletak tak jauh dibelakang lokasi Wisata kompleks Asta Tinggi, kondisi bangunannya yang terletak dilerang bukit Kasengan sangat menambah suasana alami di kawasan ini,
  • Alun-Alun Sumenep sekarang menjadi taman Adipura, setiap harinya khususnya pada malam hari dibangian utara Alun-Alun Sumenep ini terdapat pasar malam dengan menyajikan berbagai macam kuliner dan accesories yang bisa dinikmati dengan harga yang murah.
  • Wisata kesehatan di Pulau Giliyang Kecamatan Dungkek merupakan daerah di kabupaten Sumenep yang mempunyai kandungan O2/oksigen sebesar 21,5% atau 215.000 ppm
Seni Tari
Seni Musik

Seni Kriya
  • Batik Tulis Madura
  • Keris, sentra pembuatan senjata keris di Sumenep terdapat di desa Aeng tong tong dan desa desa Palongan Kecamatan Bluto,
  • Sentra Ukiran Sumenep Madura terdapat di desa Karduluk,
  • Sentra pembuatan Perahu Madura terdapat di desa Slopeng dan Pulau Sapudi,
  • Sentra Pembuatan Topeng Madura
  • Sentra Pembuatan Clurit
Budaya
Kondisi Sosial Masyarakat
Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura juga senang berdagang, terutama besi tua dan barang-barang bekas lainnya. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan dan buruh,serta beberapa ada yang berhasil menjadi Tekonokrat, Birokrat, Menteri atau Pangkat tinggi di dunia militer.
Transportasi
Untuk menuju pulau ini, ada beberapa pilihan sarana transportasi untuk para wisatawan diantaranya :
  • Bus AKAS, bus ini melayani antar kota dalam provinsi dan antar provinsi. Di masing-masing kabupaten bus ini akan singgah sejenak untuk menurunkan penumpang, pemberhentian bus paling terakhir, akan berakhir di Kalianget, Kabupaten Sumenep. Biasanya Bus AKAS tarif ekonomi akan melewati Pelabuhan Kamal bukan jembatan nasional Suramadu.
  • Bus AKAS Patas, bus ini akan melewati Jembatan Suramadu, untuk penumpang tujuan Bangkalan Kota biasanya penumpang akan diturunkan di pertigaan Tangkel akses tol Suramadu.
  • Pesawat Udara, untuk menikmati layanan transportasi ini, para penumpang akan diterbangkan dari Bandar Udara Trunojoyo, Sumenep dengan tujuan Surabaya.
  • Kapal Laut, bisa dinikamati dengan layanan rute Jangkar - Kalianget ataupun Ujung-Kamal.
Pertanian subsisten (skala kecil untuk bertahan hidup) merupakan kegiatan ekonomi utama. Jagung dan singkong merupakan tanaman budi daya utama dalam pertanian subsisten di Madura, tersebar di banyak lahan kecil. Ternak sapi juga merupakan bagian penting ekonomi pertanian di pulau ini dan memberikan pemasukan tambahan bagi keluarga petani selain penting untuk kegiatan karapan sapi. Perikanan skala kecil juga penting dalam ekonomi subsisten di sana.
Tanaman budi daya yang paling komersial di Madura ialah tembakau. Tanah di pulau ini membantu menjadikan Madura sebagai produsen penting tembakau dan cengkeh bagi industri kretek domestik. Sejak zaman kolonial Belanda, Madura juga telah menjadi penghasil dan pengekspor utama garam. Selain komoditas tanaman diatas, sejak akhir tahun 2012, Pusat Penelitian dan Pengembangan Gula Indonesia (P3GI) mencoba Pulau ini untuk dijadikan lahan pengembangan tebu di Jawa Timur.
Bangkalan yang terletak di ujung barat Madura telah mengalami industrialisasi sejak tahun 1980-an. Daerah ini mudah dijangkau dari Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, dan dengan demikian berperan menjadi daerah suburban bagi para penglaju ke Surabaya, dan sebagai lokasi industri dan layanan yang diperlukan dekat dengan Surabaya. Jembatan Suramadu yang sudah beroperasi sejak 10 Juni 2009, diharapkan meningkatkan interaksi daerah Bangkalan dengan ekonomi regional.
Sumenep sebagai daerah wisata juga menyimpan banyak sumber daya alam berupa gas alam yang dieksplorasi untuk mensuplai kebutuhan gas industri yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Sumur-sumur gas sebagian besar tersebar di daerah lepas pantai Kepulauan Sumenep.
Geografi
Kondisi geografis pulau Madura dengan topografi yang relatif datar di bagian selatan dan semakin kearah utara tidak terjadi perbedaan elevansi ketinggian yang begitu mencolok. Selain itu juga merupakan dataran tinggi tanpa gunung berapi dan tanah pertanian lahan kering. Komposisi tanah dan curah hujan yang tidak sama dilereng-lereng yang tinggi letaknya justru terlalu banyak sedangkan di lereng-lereng yang rendah malah kekurangan dengan demikian mengakibatkan Madura kurang memiliki tanah yang subur.
Secara geologis Madura merupakan kelanjutan bagian utara Jawa, kelanjutan dari pengunungan kapur yang terletak di sebelah utara dan di sebelah selatan lembah solo. Bukit-bukit kapur di Madura merupakan bukit-bukit yang lebih rendah, lebih kasar dan lebih bulat daripada bukit-bukit di Jawa dan letaknyapun lebih bergabung.
Luas keseluruhan Pulau Madura kurang lebih 5.168 km², atau kurang lebih 10 persen dari luas daratan Jawa Timur. Adapun panjang daratan kepulauannya dari ujung barat di Kamal sampai dengan ujung Timur di Kalianget sekitar 180 km dan lebarnya berkisar 40 km. Pulau ini terbagi dalam empat wilayah kabupaten. Dengan Luas wilayah untuk kabupaten Bangkalan 1.144, 75 km² terbagi dalam 8 wilayah kecamatan, kabupaten Sampang berluas wilayah 1.321,86 km², terbagi dalam 12 kecamatan, Kabupaten Pamekasan memiliki luas wilayah 844,19 km², yang terbagi dalam 13 kecamatan, dan kabupaten Sumenep mempunyai luas wilayah 1.857,530 km², terbagi dalam 27 kecamatan yang tersebar diwilayah daratan dan kepulauan.
Administrasi
Madura dibagi menjadi empat kabupaten, yaitu:
Kabupaten Ibu Kota Luas Area Populasi 2010
Kabupaten Bangkalan Bangkalan 1,260 907,255
Kabupaten Sampang Sampang 1,152 876,950
Kabupaten Pamekasan Pamekasan 733 795,526
Kabupaten Sumenep Sumenep 1,147 1,041,915
Kota-Kota Eks Karesidenan Madura
Perjalanan Sejarah Madura dimulai dari perjalanan Arya Wiraraja sebagai Adipati pertama di Madura pada abad 13. Dalam kitab nagarakertagama terutama pada tembang 15, mengatakan bahwa Pulau Madura semula bersatu dengan tanah Jawa, ini menujukkan bahwa pada tahun 1365an orang Madura dan orang Jawa merupakan bagian dari komonitas budaya yang sama.
Sekitar tahun 900-1500, pulau ini berada di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Hindu Jawa timur seperti Kediri, Singhasari, dan Majapahit. Di antara tahun 1500 dan 1624, para penguasa Madura pada batas tertentu bergantung pada kerajaan-kerajaan Islam di pantai utara Jawa seperti Demak, Gresik, dan Surabaya. Pada tahun 1624, Madura ditaklukkan oleh Mataram. Sesudah itu, pada paruh pertama abad kedelapan belas Madura berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda (mulai 1882), mula-mula oleh VOC, kemudian oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pada saat pembagian provinsi pada tahun 1920-an, Madura menjadi bagian dari provinsi Jawa Timur.[1]
Sejarah mencatat Aria Wiraraja adalah Adipati Pertama di Madura, diangkat oleh Raja Kertanegara dari Singosari, tanggal 31 Oktober 1269. Pemerintahannya berpusat di Batuputih Sumenep, merupakan keraton pertama di Madura. Pengangkatan Aria Wiraraja sebagai Adipati I Madura pada waktu itu, diduga berlangsung dengan upacara kebesaran kerajaan Singosari yang dibawa ke Madura. Di Batuputih yang kini menjadi sebuah Kecamatan kurang lebih 18 Km dari Kota Sumenep, terdapat peninggalan-peninggalan keraton Batuputih, antara lain berupa tarian rakyat, tari Gambuh dan tari Satria.
Dari sumber-sumber babad tanah Madura dikisahkan bahwa Pulau Madura pada zaman dahulu oleh para pengarung lautan hanya terlihat sebagai puncak-puncak tanah yang tinggi (sekarang menjadi bukit-bukit, dan beberapa dataran yang ketika air laut surut dataran tersebut terlihat, sedangkan apabila laut pasang dataran tersebut tidak tampak ( di bawah permukaan air ). Puncak-puncak yang terlihat tersebut diantaranya sekarang disebut Gunung Geger di Kabupaten Bangkalan dan Gunung Pajudan di kabupaten Sumenep. Sejarah tanah Madura tidak terlepas dengan sejarah atau kejadian yang terjadi di tanah Jawa. Diceritakan bahwa pada suatu masa di pulau Jawa berdiri suatu kerajaan bernama Medang kamulan. Di dalam kotanya ada sebuak keraton yang bernama keraton Giling wesi, rajanya bernama Sang Hyang Tunggal ( Kerajaan Medang Kamulan terletak di muara Sungai Brantas. Ibukotanya bernama Watan Mas).

Pulau Madura
Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur. Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.168 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali), dengan penduduk hampir 4 juta jiwa.
Jembatan Nasional Suramadu merupakan pintu masuk utama menuju Madura, selain itu untuk menuju pulau ini bisa dilalui dari jalur laut ataupun melalui jalur udara. Untuk jalur laut, bisa dilalui dari Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya menuju Pelabuhan Kamal di bangkalan, Selain itu juga bisa dilalui dari Pelabuhan Jangkar Situbondo menuju Pelabuhan Kalianget di Sumenep, ujung timur Madura.
Pulau Madura bentuknya seakan mirip badan Sapi, terdiri dari empat Kabupaten, yaitu : Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Madura, Pulau dengan sejarahnya yang panjang, tercermin dari budaya dan keseniannya dengan pengaruh islamnya yang kuat.
Pulau Madura didiami oleh suku Madura yang merupakan salah satu etnis suku dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean. Selain itu, orang Madura banyak tinggal di bagian timur Jawa Timur biasa disebut wilayah Tapal Kuda, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura yang berada di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo, Jember, jumlahnya paling banyak dan jarang yang bisa berbahasa Jawa, juga termasuk Surabaya Utara ,serta sebagian Malang .
Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan, masyarakat Madura juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja keras (abhantal omba' asapo' angen). Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan masyarakat Madura, mereka memiliki sebuah falsafah: katembheng pote mata, angok pote tolang. Sifat yang seperti inilah yang melahirkan tradisi carok pada sebagian masyarakat Madura.